Travel

Merasakan Seru dan Tegangnya Jadi Gerilyawan Perang Vietnam di Terowongan Cuchi

Macanbola.news – Pernahkah kamu membayangkan berada dalam situasi perang, masuk ke sebuah lubang di bawah tanah dengan lebar dan tinggi setengah meter? Kemudian, keluar sebentar saja, mencari patroli musuh, menembaknya, dan masuk lagi?
Strategi ini yang dipilih oleh gerilyawan Vietnam, kala perang melanda negeri mereka sekitar 50 tahun silam. Melawan superioritas Amerika Serikat, mereka harus putar akal.

Pengalaman ini kumparan dapati ketika berkunjung ke Cu Chi Tunnels, 50 kilometer utara Kota Ho Chi Minh, Vietnam. Pemerintah masih mempertahankan kompleks terowongan ini, yang menurut pemandu tur kami memiliki panjang sekitar 250 kilometer, hingga tembus ke Kota Saigon (Ho Chi Minh City).

“Dahulu panjangnya bisa sampai 250 kilometer, dari Kamboja, hingga tembus ke Saigon. Pemerintah merawat sekitar 120-an kilometer saja, untuk destinasi wisata dan mengenang perjuangan rakyat Vietnam,” kata Tran Thuy Thanh Xuan, pemandu tur berbahasa Indonesia yang akrab disapa Santi.

Setelah membayar tiket, wisatawan akan diajak masuk dan menyaksikan dokumenter perjuangan gerilyawan Vietnam di beberapa gubuk. Ada juga diorama yang menampilkan ruang masak, ruang rapat, hingga pembuatan senjata bagi gerilyawan.
Kami juga dipersilakan menjajal bagaimana seorang gerilyawan masuk ke sebuah terowongan yang sempit dan pengap itu. Lubangnya hanya muat oleh satu orang saja, itupun dengan ukuran tubuh yang tak terlalu gemuk.

Di dalamnya, kami harus berjalan merangkak. Tapi tenang, terowongan tersebut telah dilengkapi dengan lampu, serta beberapa tentara yang mengarahkan wisatawan agar tak tersesat. Ada beberapa pilihan bagi wisatawan jika ingin menyusuri terowongan itu, mulai dari 20-50 meter, hingga 100 meter.
Saat perang, terowongan ini jadi sebuah kota bagi gerilyawan. Mereka masak di dalam terowongan. Yang menarik, gerilyawan hanya memasak jelang pagi hari.

Baca Juga :   Rp 188 Triliun buat Proyek di Kepulauan Seribu

“Supaya asapnya menyatu dengan kabut, sehingga tak mudah ditemukan oleh Amerika,” kata Santi.

Amerika juga sempat mengerahkan anjing pelacak untuk mencari gerilyawan di lubang-lubang ini. Namun, Vietnam tak kalah cerdik, mereka memotong-motong seragam tawanan perang Amerika, lalu menyebarkannya di sekitar mulut terowongan yang tersembunyi.
“Jadi anjing pelacak akan pergi, karena mencium bau orang Amerika,” kata Santi.
Cu Chi juga menampilkan beberapa ranjau yang disebar di sekitar terowongan saat perang terdahulu. Ranjau berupa sebuah lubang yang diisi dengan paku-paku atau bambu runcing yang tajam.

Penutupnya berupa kayu. Jika diinjak, kayu berputar dan orang di atasnya akan terperosok masuk ke lubang penuh benda tajam itu.
Selain terowongan sempit dan jebakan bagi musuh, Cu Chi juga menyediakan lapangan tembak yang bisa dicoba oleh wisatawan. Harganya 600 ribu dong atau sekitar Rp 386 ribu untuk 10 butir peluru, dengan beragam pilihan senjata, mulai dari M60, M16, AK47, hingga SKS.

Jenis senjata tersebut merupakan senjata yang digunakan pada era perang Vietnam dulu.
Cu Chi juga menyediakan beragam suvenir yang bisa kamu dapatkan, mulai dari topi gerilyawan, kaus, hingga miniatur tank dan pesawat dari selongsong peluru.
“Tapi Anda tidak bisa membeli suvenir yang terbuat dari peluru, karena tidak akan bisa lolos dari imigrasi Vietnam,” tutup Santi.

Sumber : kumparan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *